Bukan Sekadar Kuliah! Ini Sisi Lain Serunya Kehidupan Mahasiswa Internasional di Luar Negeri

Kuliah di luar negeri ternyata bukan cuma soal beasiswa dan belajar di kelas. Simak rahasia Achmad Room Fitrianto, PhD tentang pentingnya organisasi, kerja paruh waktu, hingga aksi sosial bagi mahasiswa internasional

PASURUAN – Menjadi mahasiswa di luar negeri seringkali hanya dibayangkan sebagai rutinitas mengejar gelar akademik di ruang kelas yang megah. Namun, Achmad Room Fitrianto, PhD, dalam acara Edu Talk bertajuk "Dunia Menantimu: Persiapan Sukses Menuju Studi Internasional" yang digelar di Lab Multimedia MAN Insan Cendekia Pasuruan pada Rabu, 4 Juni 2026. Melalui pemaparannya, ia menegaskan bahwa esensi menjadi mahasiswa internasional sesungguhnya jauh melampaui sekadar mengamankan pendanaan beasiswa atau duduk mendengarkan kuliah. Menurutnya, pengalaman studi di luar negeri adalah momentum untuk berintegrasi dengan kehidupan kampus, terlibat aktif dalam masyarakat lokal, serta mengembangkan kepemimpinan yang mampu menjembatani berbagai perbedaan budaya. Achmad berpendapat bahwa jika kuliah hanya diartikan sebagai penyelesaian tugas kursus, maka seseorang cukup tetap tinggal di rumah; namun belajar di luar negeri justru menjadi penguat pertumbuhan pribadi, keterlibatan sipil, serta tanggung jawab sosial.

 

Sebagai langkah nyata untuk berkembang, Achmad mendorong para calon mahasiswa dari MAN IC Pasuruan untuk bergabung dengan berbagai organisasi pelajar yang memiliki peran spesifik. Organisasi seperti CUPSA (Student Guild) dapat menjadi wadah untuk memahami tata kelola universitas, advokasi, serta pengaruh kebijakan, sementara AIPSSA atau PPIA menyediakan jaringan budaya dan dukungan rekan sebaya bagi pelajar Indonesia. Selain itu, organisasi berbasis agama seperti CIMSA dan CMSA serta cabang NU atau Muhammadiyah di luar negeri berperan penting dalam memupuk komunitas, pelayanan, serta kesinambungan budaya bagi mahasiswa yang jauh dari tanah air. Achmad percaya bahwa terlibat dalam kepemimpinan di organisasi-organisasi ini akan memperluas dampak positif mahasiswa di luar lingkungan akademik mereka.

 

Ketangguhan mental seorang mahasiswa internasional juga diuji melalui pengalaman bekerja paruh waktu yang sangat beragam. Achmad menceritakan bagaimana ia menjalani berbagai pekerjaan mulai dari layanan pembersihan yang melatih kedisiplinan, menjadi kurir pengiriman yang mengasah manajemen logistik, hingga menjadi pelayan di Hungry Jack dan petugas kamar di Quest Hotel. Bahkan, ia pernah bekerja di bidang perakitan dan perbaikan sepeda yang mengasah kemampuan pemecahan masalah secara teknis. Semua peran ini dianggapnya sebagai laboratorium praktis yang melengkapi kecakapan organisasinya dengan nilai-nilai kerja keras dan interaksi antarbudaya. Di akhir sesinya, ia menekankan pentingnya memberikan kontribusi balik kepada masyarakat, seperti inisiatif mendirikan program TPQ di Perth serta menyisihkan uang kembalian harian untuk menciptakan beasiswa mikro melalui CIMSA bagi siswa kurang mampu di Indonesia. Achmad mengingatkan bahwa gelar hanyalah pencapaian akademik, namun pengalaman menyeluruh sebagai warga dunia lah yang memberikan makna sejati pada studi tersebut.

Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT