
Prakarsa 8 sukses menuai pujian! Lantai 2 gedung PPT, yang semula terlihat kaku dan datar, berhasil disulap menjadi peradaban Atlantis yang megah. Dengan tata ruang yang apik, pencahayaan tematik, serta aktivitas interaktif, tersaji pameran seni bertajuk “Prakarsa VIII: Paddle Pop Atlantos”. Ternyata, beragam kendala menghadang selama proses persiapan, mulai dari keterbatasan ruang hingga batalnya sejumlah rencana akibat kendala komunikasi. Namun, berkat optimisme, sinergi satu angkatan, dan
Prakarsa VIII
PASURUAN, 16 Juli 2026 — Di tengah kemeriahan tarian karakter Paddle Pop Max & Liona, berdiri sebuah ruangan berbalur hitam tepat di belakang mereka. Ruangan di lantai 2 PPT tersebut perlahan berubah menjadi lautan biru saat para siswa dan guru berbondong-bondong naik, menyusuri tangga petunjuk dari kakak-kakak panitia.
Raut wajah anak-anak seketika tertegun menatap pilar-pilar megah layaknya bangunan di kota yang hilang, Atlantis. Di sisi kanan dan kiri, dua ruangan memancarkan kontras cahaya yang memikat—satu berpendar hangat bagai kuning matahari, dan satunya lagi memancarkan biru pekat, siap menyambut siapa pun yang melangkah masuk.
Begitu memasuki ruangan, kakak-kakak panitia menyambut dengan senyuman hangat, menuntun langkah pengunjung menjelajahi setiap karya yang terpajang. Tiap tuturan yang disampaikan seakan membawa mereka menyelami kisah dan sejarah di balik pembuatannya.
Sebagai penutup petualangan, para murid baru diajak berkolaborasi. Berbekal cat air berbagai warna dan sebuah gabus putih, anak-anak kelas 10 tersebut menuangkan imajinasi bersama untuk menciptakan satu karya besar yang mereka idamkan.
Saat rasa lapar mulai menyerang, kesegaran Ice Cendekiawan dan gurihnya Kripca seakan memanggil dari lantai bawah. Di area lobi, mereka bisa berburu merchandise menarik sekaligus menikmati aneka hidangan lezat bertemakan Prakarsa.
Namun, di balik megahnya suasana pameran dan terpukaunya para pengunjung, laut yang mereka arungi tak selalu cerah dan tenang. Badai besar dan ombak tinggi kerap menerpa—salah satunya berupa miskomunikasi yang sempat mencuat saat persiapan.
“Banyak rencana-rencana… tapi karena miskomunikasi, ada beberapa barang yang enggak kebeli dan rencana itu enggak jadi dipakai.”
— Fakhry Giggssy (Ketua Pelaksana Prakarsa 8)
Beberapa pengunjung pun menyadari adanya celah, terutama dalam efisiensi penggunaan ruang.
“Sebenarnya aku ngerasa, aku yakin kalau sebenarnya karya-karya kalian tuh banyak. Cuma kayaknya sayangnya kurang… menurut aku kurang ditempel. Jadi kayak… aku paling sadar tuh waktu masuk ke ruang yang hitam putih itu loh.”
— Sabrina (Pengunjung, 28 Juli 2026)
Kendati demikian, justru dari 'badai' itulah pelajaran paling berharga itu lahir. Mereka belajar bahwa hidup bukan tentang menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana menari di tengah terpaan hujan. Refleksi tersebut tergambar jelas melalui respons, kesan, serta pesan dari para guru dan pengunjung.
“Tidak pada umumnya dari Prakarsa 1 sampai 8. Ini yang paling tematik, sampai penerapan lighting dan sebagainya terkonsepkan banget, meskipun kita tahu ruangan kita sangat terbatas.”
— Pak Wahyu (Pembina Prakarsa 8, 24 Juli 2026)
Pujian atas pembagian zona dan alur pameran juga datang dari pengunjung lainnya:
“Pembagian ruang-ruangnya juga enak. Jadi kalau masuk ke ruang ini tuh tahu… yang ini tentang apa aja. Misalnya, yang ini karya hitam putih, yang sana karya berwarna, jadi terpisah. Jauh lebih enak buat lihatnya.”
— Sabrina (Pengunjung, 28 Juli 2026)
Langkah dan jejak Prakarsa 8 ini pun berhasil menyulut inspirasi bagi para murid baru. Tapak kaki mereka kini berdiri makin mantap, siap mengarsiteki dan menyongsong Prakarsa 9 di masa depan.
"Mungkin nanti pas Prakarsa 9 bakal ada penampilan lain selain art exhibition visual kayak lukisan atau Nirmana. Bakal nampilin semacam teatrikal, drama, atau sejenisnya."
— Belicia (Murid Baru, 16 Juli 2026)
Made By: Radit & Prima