
DWP MAN IC Pasuruan menggelar edukasi interaktif Panca Cinta di Matamuda guna membentengi murid dari radikalisme, perundungan, dan dampak negatif internet.
PASURUAN – Dalam upaya membentengi generasi muda dari dampak negatif dunia maya, perundungan, hingga ancaman radikalisme, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Unsur Pelaksana (UP) Satuan Kerja (Satker) Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Pasuruan kembali menggelar program seminar moderasi beragama pada kegaiatan Matamuda 2026. Kegiatan edukasi interaktif yang berlangsung khidmat dan antusias ini melibatkan partisipasi aktif para kader, duta, serta "Bunda Modis" yang turut mendampingi, dengan mengangkat spirit utama: "Cinta Menyatukan, Moderasi Beragama Menguatkan".
Acara diawali dengan paparan komprehensif mengenai bahaya internet dan kerentanan remaja terhadap pengaruh buruk media sosial oleh Ketua DWP UP Satker MAN IC Pasuruan, Dr. Siti Munawaroh Zamroni, S.Psi., M.Pd. Ia mengingatkan agar murid mewaspadai konten negatif dan gerakan ekstrem yang berpotensi mencederai orang lain, termasuk paham radikalisme yang kini mudah menyusup melalui internet (self-radicalism) maupun teman sebaya. Untuk menanamkan pemahaman mendasar, Dr. Siti Munawaroh membuka wawasan murid melalui perumpamaan "Filosofi Botol". Ia menjelaskan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh wujud luarnya yang berbeda-beda, melainkan oleh karakter yang mengisi jiwa dan pikirannya, ibarat botol yang akan bernilai berbeda jika diisi air comberan dibandingkan dengan madu.
Lebih lanjut, materi menukik pada isu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah serta isu-isu sosial yang lebih luas seperti rasisme. Dr. Siti Munawaroh memberikan pesan tegas bahwa kesetaraan manusia adalah mutlak demi terciptanya lingkungan sosial yang aman dan inklusif. Ia juga menyoroti akar masalah perundungan, mengingatkan bahwa perilaku ekstrem tersebut sering kali muncul dan dilakukan oleh mereka yang dulunya justru pernah menjadi korban. Oleh karena itu, murid diajak mengenali anatomi emosi mereka, yakni berlatih mengaktifkan fungsi logika (Neocortex) dan mengendalikan insting reaktif (Reptilian Brain) agar tidak mudah terprovokasi. Mereka juga diedukasi untuk mengenali "bibit bully" agar tidak membesar, dengan memegang teguh prinsip #HappyTanpaBully.
Sebagai solusi dan langkah pencegahan, DWP MAN IC Pasuruan menekankan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta melalui pendekatan "Panca Cinta". Konsep ini memuat lima pilar utama, yakni Cinta Allah dan Rasul, Cinta Ilmu, Cinta Alam, Cinta Diri dan Sesama Manusia, serta Cinta Tanah Air. Kegiatan yang tadinya dikemas apik lewat metode penceritaan (storytelling) ini kemudian bertransformasi menjadi ruang diskusi yang sangat dinamis dan berpusat pada murid. Sesi interaktif tersebut dipantik dengan penuh semangat melalui yel-yel dan "Tepuk Panca Cinta" yang dipandu langsung oleh Ibu Siti Musyarofah, S.Pd.
Para murid kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok dan masing-masing menerima "kartu tindakan" yang memuat studi kasus terkait nilai spiritual, ekologi, dan sosial. Diskusi berjalan seru saat setiap murid antusias bertukar perspektif untuk merumuskan respons atau sikap terbaik menghadapi situasi dalam kartu tersebut. Pada tahap akhir, para murid bersama kader melakukan sesi refleksi untuk menarik benang merah tentang bagaimana literasi digital dan nilai moderasi beragama ini dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Pemateri juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembentukan karakter ini senantiasa membutuhkan campur tangan Allah SWT. Rangkaian Matamuda yang ditutup dengan sesi foto bersama ini diharapkan mampu mencetak murid MAN IC Pasuruan yang tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga bermental tangguh, toleran, dan inklusif di tengah perbedaan.