
Simak pesan penting Kasubdit GTK MA/MAK Dr. H. Imam Bukhori dalam Monitoring Evaluasi dan Pembinaan GTK di MAN IC Pasuruan terkait transformasi mutu dan akhlak murid.
Pasuruan – Dalam upaya mewujudkan transformasi pendidikan yang berkarakter, MAN Insan Cendekia Pasuruan menyelenggarakan agenda Monitoring, Evaluasi, dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) pada Selasa (13/10) di Ruang Multimedia. Mengusung tema "Refleksi Diri, Transformasi Mutu, GTK Madrasah Makin Bermutu", acara ini menghadirkan Kasubdit GTK MA/MAK Kemenag RI, Dr. H. Imam Bukhori, M.Pd., sebagai narasumber utama.
Kehadiran beliau disambut hangat oleh jajaran tokoh pendidikan, yakni Kasi Pendma Kemenag Kab. Pasuruan, Dr. H. Bustanul Arifin, M.Pd., Ketua Pokjawas, Dr. M. Arif Furqon, S.Ag., M.Si., beserta seluruh Guru dan Tenaga Pendidik MAN Insan Cendekia Pasuruan.
Melalui materi bertajuk Menjadi Guru Madrasah Berperspektif Islam, Dr. Imam Bukhori memaparkan esensi yang membuat pendidikan di madrasah begitu istimewa. Beliau mengingatkan bahwa seluruh aktivitas di madrasah—baik yang dilakukan oleh guru, murid, maupun pimpinan—harus dilandasi niat sebagai ibadah, bukan sekadar mencari orientasi duniawi semata.
Penguatan karakter dan akhlak harus senantiasa diposisikan di atas ilmu pengetahuan. "Memiliki ilmu yang tinggi tetapi tidak dibarengi akhlak yang baik justru akan menjauhkan seseorang dari Allah SWT," tegasnya.
Kecerdasan murid perlu dibangun beriringan dengan penguatan adab, baik terhadap diri sendiri, guru, hingga adab bermedia. Oleh karena itu, fokus utama dalam pendidikan madrasah adalah menjaga kebersihan hati dan keharmonisan jiwa (tazkiyatun nufus). Guru dituntut untuk senantiasa menjaga sikap, tidak melakukan kemaksiatan yang tampak, dan tidak memperlihatkan aib yang dapat membuat hati murid tertutup serta merusak kepercayaan.
Untuk mendidik hati tersebut, pendekatan yang harus digunakan adalah pandangan penuh kasih sayang ('ainir rahmah). Secara tegas, Dr. Imam menolak segala bentuk kekerasan dan perundungan (bullying) di lingkungan madrasah. Ia mencontohkan batasan yang sederhana: jika ada sebuah candaan namun terdapat pihak yang diam dan tidak ikut tertawa, maka hal itu sudah masuk dalam kategori perundungan.
Dalam menghadapi berbagai tingkah laku murid, para guru diajak untuk lebih mengedepankan kesabaran. Hidayah atau kemampuan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik adalah kehendak mutlak Allah SWT. Tugas seorang pendidik adalah berusaha membimbing sebaik mungkin tanpa paksaan atau amarah, diiringi dengan ikatan mahabbah fillah (cinta karena Allah) agar kelak pendidik dan murid dapat dikumpulkan bersama di surga. Kesuksesan ini juga sangat bergantung pada sinergi doa antara guru, murid, orang tua, dan masyarakat.
Di akhir pembinaannya, Dr. Imam kembali mengingatkan bahwa guru adalah sosok teladan di tengah masyarakat yang tindak-tanduknya selalu menjadi sorotan. Melalui momentum monitoring dan pembinaan ini, diharapkan MAN Insan Cendekia Pasuruan dapat terus mencetak generasi murid yang tangguh dan berkompeten (qowi), sekaligus senantiasa jujur dan dapat dipercaya (amin).